Oleh:
Dr. Yossita Wisman, SE., M.M.Pd., Lektor Universitas Palangka Raya
Dosen Pascasarjana UPR, Pengamat Sosial-Budaya, Wakil Ketua Bidang Sosial Budaya dan Pariwisata DAD Kalimantan Tengah,
dan
Prof. Tresna Priyana Soemardi, Guru Besar Fakultas Teknik dan Guru Besar Tamu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Pengamat Ekonomi Industri bernilai tambah tinggi, Inovasi, Riset dan Teknologi.
Apakah kepintaran menjamin seseorang mampu memahami dunia dengan baik? Nyatanya, tidak. Justru, banyak orang cerdas yang terjebak dalam pola pikir sempit dan membuat keputusan yang keliru dalam kehidupan nyata.
Penelitian yang dikutip Peter Senge dalam bukunya The Fifth Discipline menunjukkan bahwa sistem pendidikan modern sangat berhasil melatih individu untuk berpikir analitis, tetapi gagal membekali mereka dengan kemampuan berpikir sistemik. Hasilnya? Banyak orang yang jago menjawab soal ujian, namun kebingungan saat berhadapan dengan dinamika sosial, ekonomi, dan organisasi yang kompleks. Mereka paham bagian-bagian, tapi tidak mampu membaca hubungan antarelemen.
Kepintaran yang Gagal Melihat Pola
Bayangkan seorang manajer cerdas yang memutuskan menambah jam lembur agar produksi meningkat. Awalnya berhasil. Namun, dua bulan kemudian, kelelahan meningkat, semangat karyawan menurun, tingkat pengunduran diri naik, dan justru produktivitas menurun drastis. Ini adalah contoh nyata kegagalan berpikir sistemik — ketika seseorang menyentuh satu titik, tapi tidak melihat keseluruhan jejaring.
Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, demi berhemat, seseorang membeli barang murah. Barang cepat rusak, lalu dibeli lagi dan lagi. Ia merasa efisien, padahal tanpa sadar masuk ke dalam siklus pemborosan. Masalahnya bukan pada niat, melainkan pada cara berpikir yang parsial.
Mengapa Orang Pintar Sering Gagal Memahami Sistem?
- Fokus pada Simptom, Bukan Sistem
Dalam Thinking in Systems, Donella Meadows menyebut ini sebagai “fixes that fail”. Solusi cepat yang meredam gejala, bukan mengatasi akar masalah. Seperti mengobati demam tanpa mencari tahu infeksinya. Banyak orang pintar terlalu cepat memberi jawaban, padahal belum menyentuh struktur penyebabnya.
- Pola Pikir Linear: A Menyebabkan B, Titik
Sistem bekerja dalam lingkaran sebab-akibat (feedback loop), bukan garis lurus. A bisa menyebabkan B, tapi B juga bisa memengaruhi A, atau bahkan dipengaruhi oleh C. Peter Senge menyebut ini sebagai “looping causality”. Tanpa kesadaran ini, keputusan logis bisa menghasilkan konsekuensi tak terduga.
- Mengabaikan Delay dan Efek Jangka Panjang
Sistem tidak langsung menunjukkan dampak. Banyak keputusan baik dihentikan karena dianggap gagal hanya karena efeknya belum tampak. Ketidaksabaran menjadi jebakan berpikir bagi mereka yang mengejar hasil instan.
- Kebutaan terhadap Interdependensi
Kepakaran yang terlalu spesialis seringkali menimbulkan fragmentasi pemahaman. Seorang ahli ekonomi bisa abai terhadap dampak ekologis. Seorang teknolog bisa melupakan etika. Padahal sistem dunia bekerja dalam keterkaitan lintas bidang.
- Ego Kepintaran Menghalangi Pembelajaran
Orang pintar kerap sulit mengakui kesalahan. Padahal berpikir sistemik menuntut kerendahan hati untuk mempertanyakan asumsi dan membuka diri terhadap perspektif lain. Tanpa itu, kecerdasan justru menjadi penjara.
Kepintaran Itu Penting, Tapi Cara Berpikir Lebih Penting
Berpikir sistemik bukan soal IQ, melainkan soal kebiasaan:
Melihat hubungan, bukan hanya elemen.
Mencari pola, bukan sekadar gejala.
Mau belajar, bukan hanya merasa paling tahu.
Apakah kamu pernah melihat orang pintar yang membuat keputusan bodoh karena hanya berpikir instan? Atau justru kamu sendiri pernah mengalaminya?
Bagikan pengalamanmu di komentar dan tag teman yang kamu rasa perlu belajar memahami gambar besar.
Karena dunia ini tidak bekerja dalam garis lurus—dan memahami sistem adalah kunci agar kepintaran tidak menjadi bumerang.
“Masyarakat kita butuh lebih dari sekadar orang cerdas. Kita butuh pemimpin, pengambil keputusan, dan warga yang bisa berpikir sistemik—melihat dampak jangka panjang, memahami keterkaitan, dan berani mempertanyakan pola lama.”
– Dr. Yossita Wisman dan Prof.Tresna P.Soemardi

